Foto : Koleksi Pribadi, Boneka ku zaman SD masih awet ya lebih dari 20 tahun lalu usianya, rambutnya ancur aku trondolin....
Thursday, July 17, 2008
Slimming Tea
Foto : Koleksi Pribadi, Boneka ku zaman SD masih awet ya lebih dari 20 tahun lalu usianya, rambutnya ancur aku trondolin....
Wednesday, July 16, 2008
Matahari Memang Bersinar...
Selalu itu yang ibu tanya… apa tidak bosan
“ Lantas…”
Sudahlah … tak ada jawaban aku Bu… karena aku belom menemukan yang tepat
“ Sampai kapan? “
Entahlah…
“ Jangan menjadi seorang pemimpi .. sedikit realistis dengan keadaan dan situasi “
Apa aku salah kalo aku menginginkan seseorang yang memahami tentang rahasia kehidupan…
“ Sastra Jendra, kau tahu itu dongeng… tak ada lagi yang peduli dengan itu semua, filosofinya sudah mati dizaman sekarang “
Tidak buat aku…
“ Kau mau menjadi Sukesi… gadis malang yg selalu menghamba pada ilmu pengetahuan ttg dunia, pemimpi yang dikemudian hari selalu diingat orang dengan kehinaan dan kemarahan, karena dia telah berzina dengan seorang Begawan “
Ibu, kalau memang takdirku menjadi Sukesi, aku terima. mungkin itulah garis tangan yang sudah kubuat sendiri sebelum aku lahir …
“ Sayang… kau menutup matahatimu sehingga tak kau nilai lagi apa apa yang sudah kau lepas demi mengejar mimpi mu itu… Matahari memang bersinar jangan coba kau tutupi sinarnya dengan kedua tanganmu karena kau takkan mampu… mimpi mu untuk mengetahui rahasia tentang kehidupan bagai tangan mu… dan rahasia itu seperti sinar matahari…”
Bagaimana dengan kesejatian cinta… Cinta itu Hayuningrat Pangruwatidiwu….Cinta itu ilmu suci yang mampu merubah segalanya, hal itu layak dicari dalam kehidupan yang cuma sekali… kalau dalam sekali kehidupan manusia dia tidak mampu mencari yang namanya cinta sejati, maka sia sia sudah hidupnya karena tidak pernah mengenyam kekuatan dan kebesaran cinta… Begitulah yang terjadi pada Wisrawa dan Sukesi.
“ Memang benar Cinta itu dahsyat dan kuat… tapi dirimu adalah manusia … kau tau Wisrawa adalah seorang Guru Begawan tapi dia tetap manusia. Apa yang dia lakukan… dia tidak lebih dari seorang pria rendahan, yang begitu melihat pesona Sukesi dia tak mampu menahan gejolak dalam batinnya… aku tidak percaya Batari Durga dan Batara Guru yang mengoda mereka…karena sesungguhnya dalam diri manusia seberapa suci dan cerdasnya masih memilki hawa nafsu, baik Wisrawa maupun Sukesi keduanya melebur menjadi satu bukan karena Sastra Jendra melainkan karena Hawa Nafsu, berhari2 berdialog tentang kehidupan dengan kata2 yang saling memukau, duduk berdekatan hanya berdua, siang malam saling berpandangan…hal yang lumrah jika keduanya saling tergoda satu sama lain… kau tahu sendiri, bukan barang aneh kan kalo orang jadi suka sama seseorang karena sering curhat ttg hidup mereka, lagi pula kau kan tahu apa yang dilahirkan Sukesi setelah kejadian itu dan bandingkan ketika dia melahirkan Resi Wibisana “
Jadi aku tidak realistis kalau aku mencari cinta sejati, tapi aku akan bahagia kalau aku memiliki cinta sejati itu.
“ Cinta dan kebahagiaan adalah masalah persepsi… Cinta Sejati adalah kalau kau mampu memberi kasih sayang yang tulus buat seseorang yang juga merasakan hal yang sama padamu … sementara bahagia itu hanya untuk orang2 yang tidak pernah dirundung penyesalan, kau cerdas kau bisa memahami ini nduk…”
Tapi itu bukan inti dari cinta sejati yang kucari…
“ Bagaimana kalo ku bilang kau sebenarnya sudah menemukan… tapi kau tidak sadar… aku cinta sejatimu nduk… aku yang tiap detiknya ingin selalu membahagiakan mu, aku yang mengabdi pada mu agar kau bisa kokoh seperti karang, aku yang menadangin airmatamu kalau kau disakiti, hanya aku yg bisa menghiburmu dan mengetahui rasa sakit mu nduk… apa kau akan mencari yang lebih sejati dari cintaku padamu, aku berharap kau mendapatkannya nduk tapi bagaimana jika kau tak mendapatkannya, hatimu akan hancur berkeping-keping… Aku juga rahasia kehidupan itu nduk, kau tidak akan pernah tau berapa besar rasa sakit yang kuderita waktu ku melahirkan mu… kau tak akan mengerti mengapa aku selalu mengabdi seumur hidupku tanpa mengharap balas apa pun dari mu… dapatkah kau bayangkan seberapa besar kekuatanku untuk selalu menjagamu… kalau kau jauh aku menjaga dengan do’a setiap saat tanpa rasa bosan dan ketika kau dekat aku tak pernah meninggalkanmu… kau tak bisa juga mengukur kehebatanku, aku mengetahui perasaan yang kau pendam dari sorot matamu, kau menyimpan cinta nya dan kau sedang memegang janji, itu lah yang membuat kau buta pada sekelilingmu “
Mmmmmmmmmm, Ibu tahu… jadi ibu tahu rasanya kan…
“ Dia Matahari mu… sesuatu yang sulit kau gapai, kau bangun menara untuk mendekat.. sementara matahari itu tidak akan pernah turun dari singasananya… kau bangun keatas.. atas atas dan atas… kepenatan akan menderamu tapi kau sudah dilangit, untuk turun kau begitu sayang dan untuk naik terlalu jauh…. Aku tak ingin kau dalam kebingungan nduk… kau telah melakukan pengorbanan yang terlalu jauh nduk….”
Tapi memang cinta butuh pengorbanan bu…
“ Tentu saja… tapi itu kau lakukan kalau kau telah bersama2 dengannya dan kalian merasakan hal yang sama satu sama lain bukan sepihak. Saat ini yang kau kejar adalah hawa nafsumu…hawa nafsu itu berwajah jelek, hina dan tidak berharga diri, sementara cinta tidak seperti itu, dia cantik , suci dan mulia… hawa nafsu lah yang membuatmu mengejar mimpimu... kau tahu akhir cerita Rahwana, bentuk cinta Rahwana tak salah bahkan suci, tulus dan ikhlas, bahkan ketetapan dan keteguhan cintanya sampai saat ini tak ada seorang pun yang menyamai, dia adalah simbol keteguhan hati seorang pecinta sejati...tapi siapa yang dicintai Rahwana itulah kesalahan terbesarnya...”
Jadi aku salah selama ini bu….
“ Kau tidak adil pada dirimu, kau lupa kau harus mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum bisa mencintai seseorang, kau telah larut pada sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu, sesuatu yang tidak ditakdirkan walaupun dia telah ada dalam genggaman mu dia bisa hilang, cobalah cintai dirimu sendiri nduk...”
Bukankah itu egois
“ Bukan… egois kalau kau memaksakan kehendakmu pada sekelilingmu, tapi mencintai dirimu sendiri adalah sesuatu yang berbeda… mencintai dirimu berarti menebarkan kasih sayang buat sekelilingmu… dan itu kebahagian buat sekelilingmu”
Apa aku, selama ini tidak membuat bahagia sekelilingku…
“ Untukku ku , Ayahmu dan Kakak2mu kau seperti burung Perendjak yang membuat kami selalu bersemangat dalam hidup dan bahagia… tapi buat para jejaka yg melirikmu, senyuman manismu adalah lambang kesombonganmu, karena kau pasti akan menolak langsung siapapun yang mendekat selain dia yang seorang… kata-kata lembutmu yang membuat orang takluk tak lebih kumpulan kata-kata hujatan yang penuh dendam dan kedengkian karena kata-kata itu seakan mengejek mereka bahwa kau tak dapat ditaklukkan siapapun kecuali oleh dia seorang….”
Tapi aku memang sudah berjanji dalam mimpiku saksinya Tuhan … kalau aku tidak mendapatkannya lebih baik aku mati saja…
“ Nah sekarang kau membicarakan gadis pemimpi lainnya Dewi Citrahoyi… lantas akan berapa banyak lampu teplok yg harus kusediakan agar bisa kau sentuh untuk dapat berubah menjadi Arjuna yang sudah tua renta…. Mimpi kok digagas, yang lagi dibahas paling lagi cengar cengir dipelukan gadis lain…gadisnya pasti berbeda jauh sama kamu yg kulitnya hitam dan hidungnya seperti jambu air ini “
Aaaaaah ibu…
“ Ingat ibu punya kekuatan untuk melihat lookh… dia sedang bahagia menatap langit dibarat sana…”
Masak si….
“ ya iyalah….”
Beneran
“ Sumpah…kalau ga percaya telpon aza, tapi jgn nangis Bombay kalau tiba2 dia bilang istrinya lagi ngidam….”
Hahahahaha…. Ibu bercanda ni
“ Memang… dimanapun dia… doakan yang terbaik untuknya nduk…. Jangan menyesali yang sudah terjadi semua adalah pelajaran, kau tidak pernah tau jalan hidupmu. Mengetahui rahasia kehidupan hanya akan membuatmu bosan dengan hidup ini… hidup penuh kejutan membuatmu benar benar hidup…”
Iya Ibu benar, tapi dia imut banget lokh bu…
“ Jadi sudah kau lihat orangnya…. “
Sudah…. Persis pelawak Tukul orangnya
“ hehehehe… jadi pangeran yang kau nanti serupa dengan tukul wajahnya, Tukul kok dibilang imut ”
Hehehe… kan kalo cinta gula jawa rasa coklat dan seorang tukul bisa jadi seperti brad pitt dong
Friday, December 28, 2007
Teh Taj Mahal

Bentuknya khas butel butel alias granula, persis teh dari China
Teh yg kupejeng ini jenis teh awurnya bukan serbuk... harganya jauh lebih mahal dibanding dengan harga teh khas Indonesia, yg paling mahal sekalipun ... Teh Mawar Indonesia paling mahal kan 20.000 ~ 25.000 tapi ini lebih.
Wanginya... maaf ga terlalu wangi biasa aza, ga ada aroma khusus dari teh ini kecuali bau apek2 dikit kayak bau jamu tapi sangat2 ringan.
Rasanya agak sepet2 pait, jadi teh ini paling cocok kl dikasih susu. Dalam 100 ml air teh ini cukup 3 sendok susu Carnation pas banget, untung ngurangin kadar sepet2nya... emang si ga seenak Golpara kalo dicampur susu... but much betterlah rasanya ketimbang diminum telanjang gitu...
Kalo aku sendiri sih emang paling seneng teh tanpa campuran apa2... Teh ini emang ga gitu wangi tapi kl diminum berasa banget hawa hangat mengalir dari tenggorokan, ke rongga dada dan perut... bahkan ketika diminum dalam keadaan sudah dingin ... mungkin ini ciri khas teh India. Apa ada khasiatnya minum teh ini ... ga tahu deh, tapi yang jelas bisa bikin laper mulu... seminggu minum teh ini kuperhartiin aku doyan makan, maksudnya makan apa aza berasa enaknya.
Beli aza di Pasar Baru Jakarta... tempat yang jual bahan makanan India pasti nemu teh ini... jgn kamse begitu liat harganya ya.... maklum rupiah emang kecil nilainya....
~~~
Foto : Koleksi Pribadi
Teh Sedap Wangi
Teh Sedap Wangi
Teh Asli Bogor alias Puncak
Wednesday, December 26, 2007
Dongeng Keong Mas
Cemburu dan kecewa hadir dalam hati Galuh Ajeng, tak mampu melawan kehendak para sesepuh, Galuh Ajeng menyerang Candra Kirana dari belakang lewat Sihir... pada waktu yang telah ditentukan dipinggir sungai biasa tempat Candra Kirana pergi mandi Galuh Ajeng lewat bantuan seorang dukun berhasil merubah sosok Candra Kirana menjadi seekor Keong Mas..
Candra Kirana yang tau dirinya telah disihir hanya bisa berdo'a siang dan malam di sepanjang aliran sungai ... agar dirinya bisa kembali seperti semula dan berdo'a agar bisa bertemu kembali dengan Rd. Inu Kertapati... Para Dewata mendengar Do'anya sehingga memberikan pertolongan, jikalau dia bertemu kembali dengan Rd. Inu Kertapati maka dia akan kembali ke wujud semula... tak hanya itu Dewata juga menolong dengan mempertemukannya dengan seorang wanita tua bernama Randa Dadapan dari desa Dadap... tanpa sengaja Keong Mas nyangkut diantara pakaian yang dia cuci, sayang untuk dibuang dijadikanlah Chandra Kirana alias Keong Mas sebagai peliharaan...
Karena kebaikan hati Randa Dadapan setiap hari jikalau Randa Dadapan pergi .. Candra Kirana akan merubah dirinya menjadi manusia biasa dan melakukan segala pekerjaan rumah .. hal ini yang membuat Randa Dadapan curiga.. rumah bersih masakan tersedia ... hingga suatu hari jebakan dibuat dan berhasil akhirnya Keong Mas mengakui siapa dirinya sesungguhnya berserta cerita mengapa dirinya menjadi seperti sekarang ini...
Monday, December 17, 2007
Teh Mawar 2 Tang
Teh Mawar 2 Tang
Teh Celup Wangi Mawar 2 Tang…
Produksi : 2 Tang
Teh celup ini dengan kantong ganda… benar benar memilik aroma mawar yang khas… begitu diseduh akan langsung tercium wangi mawar… bahkan sebelom diseduh baru keluar dari bungkusannya juga langsung tercium aroma mawar…
Soal rasa ya tetep teh hitam … dengan rasa sedikit keset2 gitu… seteguk dua teguk menyegarkan … tapi kalau sudah selesai diminum … kira2 beberapa menitan dan kita mencoba mendehem tak ada lagi yang tersisa… aromanya sudah hilang.
Aroma Mawar tak lagi didapat …kecuali kita nyeruput lagi teh ini… lagi … dan lagi.
Yang paling enak kl nyeruput teh ini itu ditemani sama onde-onde… kalo mencampur gula pada teh ini hanya akan memudarkan rasa Mawar itu sendiri sehingga yang ada eneg… berbeda dengan teh2 melati maksreset kl ditambah gula...
Soal Harga ... teh ini tergolong murah, tapi bukan bukan golongan teh warteg.
~~~
Sunday, December 16, 2007
Dewi
Dibayangkannya, rambutnya yang panjang dan hitam terurai dihiasi rangkaian bunga melati layaknya langit malam dengan taburan bintang bintang, rambut yang terurai indah yang menebarkan aroma wangi yang samar. ditangan Mbah Genuk sang perias dan peƱata busana dia bukanlagi hanya sekedar Dewi tapi berubah menjadi Dewi Draupadi yang jelita.
Seandainya Mas Yuki bisa memahami ini, tentu akan lain ceritanya…
Waktu telah berlalu, semua menjadi tinggal kenangan, entah siapa yang memulainya. Tiba-tiba semua kenangan menjadi gumpalan2 yang menyesakkan dada. Berawal ketika Dewi bilang “Ya” pada seorang pria bermata tulus yang meminangnya, pria yang duduk diantara penonton dan menganggumi ke agungannya menari. Pria biasa yang telah berubah menjadi Maharaja di hatinya hanya dengan sekali bertemu. Mereka saling mencintai satu sama lain dan bahagia bersama. Tanpa mereka tahu dunia mereka berbeda.
☺☺☺☺☺
Malam ini sepi sekali, seperti kekosongannya hatinya, Armada si sulung mungkin sedang sibuk di kamarnya membuka internet ato sibuk dengan PR nya, Annelies si mungil mungkin sudah asyik dengan mimpi-mimpinya, annelies adalah nama yang diberikan pada putri bungsu mereka karena Dewi dan Yuki sama sama menganggumi Pramodya Ananta Toer.
Sedangkan Mas Yuki sendiri, entah di ufuk mana saat ini dia berada, sudah setahun lebih suami tercintanya timbul tenggelam. Jikalau timbul dirumahnya kadang hanya untuk berganti baju kemudian mencium kening Dewi sambil berhalo-halo ditelpon selularnya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan rumah, kadang kadang juga datang, mandi, makan dan menghilang dikamar kerjanya, seakan hidup tanpa istri dan anak-anak.
Dibukanya Album foto, dia ingat kembali masa kanak-kanaknya dia tersenyum simpul memandangin gadis kecil yang berpakaian seperti kijang, ya itulah dia, dari kecil dia sudah menari, dia ingat ketika kakeknya bertanya “ apa cita cita mu ndhuk, cah ayu”… “ aku ingin jadi penari “ jawabnya lantang sehingga orang tua dan neneknya muncul diantara pembicaraan cucu dan kakeknya, dan mereka hanya bisa mendo’a kan Dewi untuk menjadi Penari.
Dibalik-balik lagi lembar Album foto, Dia ingat dan meraba sebuah foto dengan mata yang berkaca2 terharu, disampingnya ada guntingan kertas Koran potongan berita dengan foto wajahnya dalam guntingan Koran itu, dia ingat ketika wawancara dengan wartawan seusai pertunjukkan “Drupadi Mulat” yang dipentaskan untuk perayaan kota kecilnya pernyataannya saat itu juga tercetak jelas “ aku ingin memiliki suami yang baik hati, penyanyang dan mencintai tari juga, sehingga aku bisa menari terus dan terus” pernyataan yang dibuat gadis polos usia 18 tahun, 2 tahun sebelum dia memutuskan keputusan yang berbeda dari ucapannya.
Dewi memilih Mas Yuki karena cintanya dan bersiap mengarungi kehidupan sebagai istri seorang pengusaha yang juga pemilik perusahaan. Pahit dan getir sudah dia bayangkan tapi tak pernah diberitahu bahwa dia tak bisa lagi menjadi seorang Penari karena statusnya telah berubah menjadi Nyonya Yuki Almanto sang pengusaha terkenal yang mengharapkannya untuk berkelakuan dan penampilan baik, terjaga kata-katanya demi kelangsungan bisnis suaminya. Dewi si Burung Prendjak sudah mati, Dewi si Bunga Matahari yang agung sudah lenyap, Dewi si Walet harus masuk sangkar. Sesuatu yang mustahil terjadi 10 tahun yang lalu, tetapi inilah kehidupan, sesuatu yang harus dijalaninya karena pilihannya sendiri, sesuatu yang dinilainya baik pada saat itu belom tentu baik pula bagi kehidupannya yg akan datang malah justru merongrong bathinnya yang memang dilahirkan untuk menjadi penari.
Menikahi Mas Yuki telah memberangus keinginannya menari, Lebih dari 10 tahun keinginanya menari dimatikan demi cinta, tapi lambat laun kerinduannya untuk menari timbul makin lama makin kuat dan tak tertahankan seperti bendungan saja, dia mampu menahan air dari seluruh pelosok desa tapi pasti akan menemui batasnya.
“ Aku ingin menari boleh ya mas?? “ bisiknya pada suatu malam seusai badai kerinduan dua anak manusia, dia berharap barangkali saja, setelah mereguk kenikmatan Mas Yuki berkenan mengabulkan permintaanya, suaminya tak menjawab..”boleh ya mas??” sekali lagi di ucapkan di dada pria gagah itu, tak ada jawaban… hanya terdengar dengkuran kelelahan. Dia bangkit dan duduk terpaku menatap wajah suaminya, airmatanya meleleh kemudian menjadi dingin karena semburan AC dikamarnya, berlahan jatuh didadanya laksanakan kristal kristal tajam yang mengerigiti dadanya, tenggorokkannya tercekat menahan sesak, dia tak ingin menangis dan membangunkan suaminya. Sepi kian meruncing menusuk tiba-tiba tanpa kata.
☺☺☺☺☺
Malam telah menjadi sepi sekali, dia merenung di meja makan yang menghadap taman, mengenang semuanya yang indah dan menyesakkan termasuk kekalutan hatinya untuk bisa menari lagi. Dipandanginnya nasi kuning berbentuk tumpeng kecil dihadapannya, nasi kuning tumpeng di kelilingin kering tempe, perkedel, sambel goreng ati, abon, daging garang asem, dengan hiasan ketimun yang dipotong dan tepat diujung tumpeng diberi cabe yg dibelah belah tidak putus kemudian di rendam air es sehingga ujung-ujung cabe melengkung indah, laksana tangan penari … dia sentuh cabe itu sambil berguman hari ini ulang tahun ku yg ke 30. Sengaja dipersiapkan sendiri untuk bisa dirayakan bersama mas yuki berdua, tapi suaminya telat pulang, suaminya juga tidak mengucakan selamat ulang tahun baik telpon maupun sms, hari ulang tahun ini mungkin bagi suaminya seperti hari-hari lainnya. Sebetulnya sudah sejak siang dia meminta suaminya untuk pulang cepat tapi suaminya bilang repot dan menyebutkan kegiatan2 yang bakal dijalani sehingga Dewi urung bicara mengabarkan rencananya dan tak juga menyebutkan kalo hari ini ulang tahunnya.
Dia tersenyum tiba-tiba ketika memandang bunga crisant pink, dia teringat siapa yang memberinya, putra sulungnya, Armada memberi seikat bunga crisant pink sore tadi, berserta kartu ucapan “ Happy Birthday Mommy… I love you”… dan si mungil Annelies walaupun tahu hari ini ulang tahunnya, ann tidak memberi kado, cukup ciuman dipipi, 3 kali didapat Dewi satu ketika annelis mau berangkat sekolah TK nya, ketika pulang dan malam hari sebelom dia berlari ke kamarnya untuk tidur sesuatu yang biasa memang tapi yang membedakan setiap kali mengecup pipi Dewi selalu mengucapkan " Happy Birthday Mommy.. aku sayaaaang banget sama mama..."
Dewi telah berubah menjadi barang taruhan, dia dipertaruhkan agar suaminya yang pengusaha bisa mendapatkan posisi lain seperti jabatan tertentu atau apapun impian suaminya, Dia dipertaruhkan hidupnya untuk menjadi istri yang ideal , baik hati dan kebanggaan keluarga, Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi orang yang berguna dan cerdas, Dia dipertaruhakan agar keluarganya menjadi contoh, cermin dan tolak ukur keluarga ideal.kehidupannya sejak 12 tahun lalu adalah taruhan.
Dia ingin menari, dia ingin menjelma menjadi Dewi Draupadi, tumpeng dan lauk pauk menjelma menjadi penari Bedhaya yang mengiringinya. Tarian hening menyiratkan kesakralan, lembut merogoh sukma yang melihat, dan keindahannya hanya mampu di cerna oleh jiwa… jiwa yang ingin mengapai keindahan. Dewi Draupadi yang menari Bedhaya di taman sebelum Dursanana menjemput paksa dan menyeretnya ke Balairung Hastina.
Dia dan suaminya melintasi meja makan, Mas Yuki diam tertengun menatapi nasi tumpeng sebelum sempat berkata-kata Dewi mendahuluinya..
“ Hari ini aku ulang tahun mas..” cetusnya
“ I’m Sorry my dear….aaaaah, Happy birthday sa…yang..” dengan nada menyesal dan mencoba menghampiri untuk memberi kecupan.
“ Kau ingin makan tidak??…” tanyanya seraya mengelak kecupan tadi dan menatap suaminya untuk memastikan jawaban… Mas Yuki mengeleng lembut.
Seketika matanya merembang dan airmatanya tumpah deras, kemudian dia berlari ke kamarnya, di iringin Mas Yuki dari belakang dengan wajah menyesal… sampai di kamar ditubrukkan dirinya dengan ranjangnya.
“ Cobalah kau mengerti sayang… aku sibuk dan aku lupa kl hari ini ulang tahun mu, ayo lah sayangku mengertilah sedikit saja… aku akan memberimu apa saja sebagai kadonya… ayolah sayang apa saja” Mas Yuki merajuk diucapkan tepat di leher Dewi dengan penyesalan karena telah melupakan hari ulang tahun nya.
Seketika Dewi bangkit dan menghapus airmatanya
“ apa saja..bener mas apa saja?”, dengan senyum sedikit mengembang dibibirnya
“ Ya apa saja…” diucapkan dengan lega.
“ Aku ingin Menari lagi..” kata-kata yg diucapkan lembut dan bahagia ternyata memicu kata-kata keras dan tajam
“ Menari, tidak boleh titik, aku memberi segalanya dan aku memintamu untuk tidak melakukan satu hal yaitu Menari, apa susahnya siiiich…”
“ Kau bilang apa saja “
“ Tidak boleh”
“ Aku ingin menunjukkan keindahan …..”
“ Keindahan tubuhmu hanya untuk aku seorang… karena kamu istriku”
“ Kalau begitu aku menari untuk mas saja… bagaimana??”
“ Aku tak ada waktu untuk itu”
“ Tapi Mas tadi bilang apa saja”
“ Aku sudah ngak suka tarian lagi….” Bisik suaminya seraya mendekap erat tubuh Dewi “ Aku lebih suka kau enggak pakai ini …. Enggak pakai ini… ini …. Iniii” dan tangan suaminya seperti serangan dursasana sang kurawa ketika meloloskan pakaian Dewi Draupadi di Balairung Hastina tempat pelaksanaan taruhan dadu suaminya dan duryodana…
“ Lepas kan … aku lagi marah sama kamu mas” jeritnya sambil menangis dengan arimata yang tumpah ruah
“ Hahahaha… ayolah sayang bukan kah hari ini hari yang spesial yang pantas kita rayakan bersama” teriakkan dan kata-kata laksana kata2 para kurawa yang akan menontoni tubuhnya karena Yudistira gagal menang di taruhan dadu
“ Jangaaan …. Lepaskan ” Mohonnya seperti Draupadi memohon pada para kurawa untuk tidak dipermalukan… bedanya tak ada Krisna yang menolong Dewi.
Dengan hatinya yang hancur lebur, bendungan yang 10 tahun lamanya menahan air tiba tiba jebol begitu saja airnya menyembur deras … seperti sebuah goncangan dahsyat seluruh ingatannya kembali bagaimana pertama kali dia memakai kain dan membebatkan selendang, dia ingat bagaimana ibunya melengkukkan tangan mengajari menari dan dikepalanya Gendang yang ditabuhkan kan kakeknya berbunyi keras dan bertubi2 seperti kecupan Mas Yuki di wajah dan lehernya selesai meloloskan pakaiannya …. Teringat juga awal bertemu dengan Mas Yuki indahnya pertemuan dan jalinan asmara membutakan Dewi untuk tidak menari lagi… suara tangisan bayi tangisan pertama kali Armada dan Annelies seiring dengan merapat tubuh Mas Yuki ke tubuhnya untuk meminta kenikmatan terus dan terus …Kemudian matanya terbuka sedikit melihat wajah Mas Yuki, mata yang tulus wajah yang tampan berubah menjadi seorang Dursanana yang kurang ajar dan buruk rupa. Seketika dia pejamkan matanya merasakan perih yang luar biasa di tubuhnya seiring dengan rasa perih hatinya selama bertahun tahun menahan keinginannya menari. Tubuhnya seperti di dentumi beban yang berat dan rasa sakit tak tertahan, sekejap semuanya menjadi gelap dan gelap tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan kecuali membiarkan segalanya.
Pagi itu cerah, Dewi membuka jendela dengan tubuh yang berbalut selimut… dia berdiri menghadap suaminya… suaminya tersenyum. “ Ayo lah sayang silau tutup kembali jendelanya…” tanpa menghiraukan ucapan suaminya Dewi Menari, dengan balutan selimut yang tak rapi dan rambut yang terurai acak-acakkan … sesaat Mas Yuki membiarkannya menari, sambil tersenyum kecut.
Didalam kepala Dewi terdengar iringan rebab yang menyayat, Dewi bergerak lamban selimut yang sebagian menebar di lantai berkali kali dia sapukan sesuai dengan gerak tarian. Didalam kepala Dewi tak hanya rebab yang mengalun tapi grimingan gender dengan ganding “ Gandhung Melati “ sebuah komposisi sakral dijadikan arah tariannya… dia menari dengan keheningan sekelilingnya sementara mata suaminya menatap dengan kantuk yg masih ada.. Dia menapaki lantai kamar, sesekali dia kengser, sesekali ukel, sesekali juga tawing selebihnya dia melangkah perlahan dengan tatapan tertunduk menuju pusat bumi, bumi yang halus, bumi yang sempurna, bumi yang kokoh menjadi pijakkan jutaan manusia, bumi yang sabar yang menerima apa pun yang baik dan buruk diberikan manusia.
Dia berdiri di depan pintu kamar..dan menari cukup lama di depan pintu kamarnya, sebelum sekejap dia membuka dan melintasi pintu laksana melintasi pintu kehidupannya itu dengan hanya berbalut selimut. Mas Yuki segera beranjak dari kantuknya dan berusaha mengejar Dewi langkah tertahan sedikit akibat kantuknya… sesampai didepan pintu kamar dia memandang ke sekeliling didapati Istrinya sudah sampai di lantai bawah dan menuju taman, dia terus menari tanpa menghiraukan dandanannya dan sekelilingnya. Mas Yuki berhasil mengejarnya dan Mendekap Dewi dengan perasaan kesal dan penekanan dia berkata “ Apa yang kau lakukan Ma..”
“ Aku selalu menuruti apa mau mu mas… izinkan aku menari. Aku ingin menari selamanya…” balas Dewi dengan kata kata lemah, “ Tapi kau istriku, Istri Tuan Yuki Almanto yang terhormat… aku mohon Nyonya Almanto, hentikan semua ini kembali ke kamar dan berpakaianlah” kali ini Mas Yuki benar-benar bersikeras dia berusaha menarik istrinya kedalam rumah… tapi sedemikian rupa berusaha Dewi pun berusaha melepaskan diri “Keindahan adalah karunia Tuhan yang Maha Esa, Tuhan memberikan keindahan alam ini tanpa balasan… selanjutnya haruskah manusia mengukur keindahan dengan kaleng kaleng susu atau titel-titel yg akan disandang anak-anaknya kelak”…Dengan Menatap pada bumi, wujud penghormatan pada Tuhan karena kita tunduk pada-Nya dan merengkuh bumi sebagai tempat naungan terbaik laksana seorang Ibu, Dewi terus menari mengerakkan tangan, kaki, leher dan kepalanya… “ Mengapa keindahan harus dibakar oleh api birahi tak bisa kah keindahan dihargai dengan wujud syukur pada Illahi yang telah menciptakan semesta ini “ sesekali Dewi merubah posisi condong ke depan menarik perlahan, miring kekanan menoleh ke sudut bahu sekejap Mas Yuki sadar apa yang sebenernya terjadi, seluruh yang ditarikan Dewi adalah wujud keindahan dan keagungan itulah yang membuatnya jatuh cinta pada kembang desa yang polos itu. Seperti seorang Bisma lah Mas Yuki, takluk sebelum dia mengangkat gendewanya di hadapan Drupadi ketika Drupadi bertanya mengapa seorang yang suci tak bernoda dan tak memiliki nafsu akan wanita bisa hilang kesadarannya dan ikut menikmati dirinya dipermalukan diseluruh Balairung Hastina.
Dewi menatap Mas Yuki yang mulai terlihat laksana seorang pria dungu, bodoooh, bebal, dengan mata yang mempertanyakan entah apa. Dibiarkan lelaki dihadapannya ternganga dengan ketidakpahamannya akan apa yang dia saksikan … seperti itulah laki-laki sampai kapan pun dan dimanapun tak pernah dewasa dan bijak, semua keindahan di dunia hanya mereka bisa ukur dengan isi dicelana dalam mereka saja.
Kain selimut yang membalut Dewi mulai menjulur panjang menyapu rerumputan ditaman, terseret-seret gerak tubuhnya. Mas Yuki membatu menyaksikan itu semua menikmat tarian istrinya yang gemulai dan sakral, mungkin saat ini Mas Yuki menyadari keindahan sesungguhnya tak selalu identik dengan membakar birahi tapi keindahan yang benar benar keindahan. Tarian Dewi mengalir begitu saja kali ini sudah berpasang-pasang mata selain mata Mas Yuki yang memandang Dewi, buah hati mereka menyaksikkan tarian tersebut berserta pekerja dirumah mereka. Semua hanyut dalam tarian Dewi, sebuah tarian keindahan yang disaksikan dengan keharuan… airmata jatuh di pipi Dewi, Mas Yuki, anak anak dan perkerja. Ke haruan tiba2 berubah menjadi kesedihan seiring dengan makin turunnya selimut yang membalut tubuh Dewi… selimut itu turun kebawah … kebawah dan kebawah … Annelies menghampiri ibunya berusaha memperbaiki selimut ibunya tapi sang ibu tetap bergerak – gerak menari lembut tanpa sadarkan diri “ mommy, pleaseeee “ ucapnya dengan tangisan kemudian pecah sudah tangisan annelies yang menghambur memeluk pinggang ibunya diiringi Mas Yuki dan Armada memeluk Dewi, tapi itu sudah terlambat.. kesadaran Dewi sudah jauh meninggalkan mereka dan hilang…
